Awal mula muncul kaidah tsb adalah ketika Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat berikut:
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ
📚الأحقاف: 11
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ
📚الأحقاف: 11
"Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: "Kalau sekiranya Al Quran adalah suatu yang baik, tentulah mereka (kaum muslimin) tiada mendahului kami mengimaninya.
مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ إِلَّا وَقَدْ بَادَرُوا إِلَيْهَا
"Adapun ahlussunnah Waljamaah maka mereka mengatakan tentang segala perbuatan dan ucapan yang tidak dilakukan oleh sahabat,
"Adapun ahlussunnah Waljamaah maka mereka mengatakan tentang segala perbuatan dan ucapan yang tidak dilakukan oleh sahabat,
bahwa itu adalah bid'ah karena kalau memang baik tentu para sahabat sudah mendahului kita melakukannya sebab sesungguhnya mereka tidak meninggalkan sesuatu kebaikan pun kecuali langsung mengerjakannya."
Jadi, logika yang di gunakan oleh kaum musyrik tsb dibalik; Yang awalnya dijadikan patokan kebenaran adalah kaum Quraisy, malah dibalik menjadi para Sahabat Nabi yang getol sekali melakukan kebaikan.
Tak terhitung ucapan dan tindakan di era tabiin dan seterusnya yang tidak pernah dilakukan oleh sahabat tetapi disepakati sebagai kebaikan.
Klaim bahwa para sahabat tidak meninggalkan sesuatu kebaikan pun kecuali langsung mengerjakannya adalah klaim tanpa bukti.
Klaim bahwa para sahabat tidak meninggalkan sesuatu kebaikan pun kecuali langsung mengerjakannya adalah klaim tanpa bukti.
Sejak kapan kebaikan itu dapat dihitung jumlahnya?
Klaim tsb dibangun atas asumsi bahwa kebaikan itu terbatas di masa sahabat saja, dan sudah habis mereka lakukan semuanya.
Klaim tsb dibangun atas asumsi bahwa kebaikan itu terbatas di masa sahabat saja, dan sudah habis mereka lakukan semuanya.
Padahal Nabi bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
📚متفق عليه
"Manusia terbaik adalah manusia di masaku lalu yang setelah mereka lalu setelah mereka".
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
📚متفق عليه
"Manusia terbaik adalah manusia di masaku lalu yang setelah mereka lalu setelah mereka".
Penjelasan dari sabda Nabi di atas adalah kebaikan itu dicapai di tiga kurun awal; di masa sahabat hidup, di masa Tabi'in dan di masa Atba' at-Tabi'in. Tiga kurun inilah yang dikenal sebagai generasi salaf, yaitu generasi emas.
Ini berarti kebaikan tidak habis dilakukan di masa Sahabat, Tabi’in dan Atba’at-Tabi’in saja, tapi juga ada kebaikan lain yang terus ada hingga kiamat.
Semoga bermanfaat🙏🏿🌹
Banyakin baca @RickoAlbino biar ga jumud.!
Semoga bermanfaat🙏🏿🌹
Banyakin baca @RickoAlbino biar ga jumud.!
جاري تحميل الاقتراحات...