Sayid Machmoed BSA
Sayid Machmoed BSA

@sayid__machmoed

23 تغريدة 7 قراءة Jul 31, 2024
Sejak Kapan Syirik Jadi Hukum?
“Sejak Wahabi lahir 200 tahun yang lalu”
Pengikut Wahabi sampai jidat gosong bertambah bodoh
Hukum Taklifi adalah hukum yang dibebankan kepada orang yang mukallaf, sehingga ia tahu mana yang harus dilakukan, ditinggalkan, diyakini dan di jauhi.
Tidak ada hukum syirik dalam agama Islam, semua kitab kitab Ushul 4 madzhab tidak ada “SYIRIK" dikategorikan sebagai hukum. Karena, Syirik adalah sifat Amaliyah bukan Hukum Taklifiyyah.
Konsekuensi dari Syirik menjadikannya hukum, ketika telah masuk ke ranah hukum Taklifi.
Contoh seperti pahala atau siksa. Oleh karenanya, jika pertanyaan di diatas di masukkan ke jawaban "SYIRIK". Maka, adanya hukum haram itu untuk apa?.
Disitulah titik kerancuan terjadi.
Al Imam Muhammad Abdurrahman Aidul Mahallawi Al Hanafi (W 1341 H) mengatakan:
الحكم التكليفي أنواعه عندنا سبعة: الفرض..الواجب..المندوب..المحرم..المكروه تحريماً..المكروه تنزيهاً..المباح. وعند الشافعية الأحكام التكليفية خمسة: وهي: الإيجاب, والتحريم, والكراهة, والندب, والإباحة.
Hukum Taklifi banyak ragamnya, bagi kami (ulama Hanafiyah) ada 7: Fardha, Wajib, Sunnah, Haram, Makruh Tahrim, Makruh Tanzih dan Mubah (boleh). Dan bagi ulama Syafi'iyah hukum Taklifi ada 5, Wajib, Haram, Makruh, Sunnah dan Ibahah (boleh)
📚Tashilul Wusul Ila Ilmi Ushul: 424-428
Al Imam Ibnu Qudamah Al Hanbali (W 620 H) mengatakan:
الباب الأول في حقيقة الحكم وأقسامه أقسام أحكام التكليف خمسة واجب، ومندوب، ومباح ومكروه، ومحظور.
Artinya: Bab yang pertama menjelaskan hakikat hukum dan pembagiannya. Pembagian hukum hukum Taklifi ada 5: Wajib, Sunnah, Mubah (boleh), makruh dan larangan.
📚Raudhatun Naadhir Wa Jannah Al Manadhir: 97
Al Imam Al Qurafi Al Maliki (W 684 H) mengatakan:
وقال التبريزي: الحكم التكليفي ينقسم إلى : إيجاب، وندب، وتحريم، وكراهة وإباحة
“Attabrizi mengatakan: Hukum Taklifi terbagi pada: Wajib, Sunnah, Haram, Makruh dan Ibahah (boleh)”
📚Nafa'isul Ushul Fii Syarhi Al Mahsul: 1/91
Syaikh Wahbah Zuhaili mengatakan:
المبحث الثالث أنواع الحكم لكل من الحكم التكليفي والحكم الوضعي أنواع هي ما يلي : أنواع الحكم التكليفي ينقسم الحكم التكليفي إلى أنواع خمسة... الإيجاب : هو الخطاب الدال على طلب الفعل طلباً جازماً نحو وأتوا الزكاة ) . والندب : هو
الخطاب الدال على طلب الفعل طلباً غير جازم نحو فكاتبوهم إن علمتم فيهم خيراً ) . والتحريم : هو الخطاب الدال على طلب الكف عن الفعل طلباً جازماً ، نحو ولا تقربوا الزنا . . والكراهة : هي الخطاب الدال على طلب الكف عن الفعل طلباً غير جازم نحو قوله : « إذا دخل أحدكم
المسجد فلا يجلس حتى يركع ركعتين . والإباحة : هي الخطاب الدال على تخيير المكلف بين الفعل والترك نحو قوله تعالى : ليس عليكم جناح أن تدخلوا بيوتاً غير مسكونة فيها متاع لكم )
Pembahasan yang ketiga adalah macam macam hukum. Bagi setiap dari hukum Taklifi dan Wadh'i itu banyak ragamnya, yaitu apa apa yang akan dijelaskan: Macam macam hukum Taklifi. Hukum Taklifi terbagi menjadi 5 :
(1) Iijab (wajib):
adalah Khitab (sebuah pembicaraan) yang tertuju kepada keharusan melakukan dengan pasti (tidak boleh ditinggalkan sama sekali). Seperti "Tunaikan lah Zakat".
(2) Nadbu (Sunnah) adalah Khitab (sebuah pembicaraan) yang tertuju kepada keharusan melakukan dengan tanpa kepastian (tidak wajib dilakukan). Seperti "hendaklah kamu buat perjanjian kepada mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka".
(3) Tahrim (haram) adalah Khitab (sebuah pembicaraan) yang tertuju kepada tercegahnya melakukan secara pasti (harus ditinggalkan). Seperti "Janganlah kalian mendekati zina...".
(4) Karahah (makruh) adalah Khitab (sebuah pembicaraan) yang tertuju kepada tercegahnya melakukan Sesuatu secara tidak pasti (sebisanya tinggalkan saja). Seperti sabdanya "Jika salah satu kalian masuk ke masjid, maka jangan duduk sebelum melakukan dua rakaat".
(5) Ibahah (boleh): adalah Khitab (sebuah pembicaraan) yang tertuju kepada hak memilih antara melakukan dan meninggalkan. Seperti firman Allah taala: Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak dihuni, yang di dalamnya ada kepentinganmu".
📚Ushulul Fiqh Al Islami: 44-45
Jadi, kalau mau menjawab pertanyaan. Teliti dan cermati dulu isi kandungan pertanyaannya biar tidak cacat antara isi dan kenyataannya.
Ngawur jika di jawab syirik, karena si penanya menanyakan "HUKUM" maka harus dijawab hukumnya gimana.
Syaikh Sholeh Ibnu Utsaimin Al Wahhabi mengatakan:
ومن القواعد المعروفة المقررة عند أهل العلم: الحكم على الشيء فرع عن تصوره؛ فلا تحكمْ على شيء إلا بعد أن تتصوره تصوُّرًا تامًّا؛ حتى يكون الحكم مطابقًا للواقع، وإلا حصل خللٌ كبيرٌجدًّا
“Dan diantara Qoidah yang terkenal lagi sering digunakan dikalangan ahli ilmu adalah Hukum atas sesuatu merupakan cabang dari gambarannya. Maka, janganlah engkau menghukumi sesuatu terkecuali engkau telah menggambarkannya dengan gambaran yang sempurna.
Sehingga hukum itu cocok dengan apa yang terjadi. Jika tidak. Maka, akan terjadi kecacatan yang serius.
📚Syarhul Ushul Min Ilmi Ushul: 604
Perhatikan perkataan Syekh Wahabi di atas, sesuai dengan kaidah Manthiq.
Di dalam kaidah manthiq disebutkan bahwa pemberian status hukum atas sesuatu adalah cabang dari gambaran terhadap sesuatu tersebut. Ketika gambarannya benar, maka status hukumnya akan benar. Sebaliknya ketika gambarannya salah, maka status hukumnya juga akan salah
Kesalahan memberi vonis hukum yang disebabkan kesalahan gambaran dikenal sebagai strawman fallacy.
Maka jangan lagi memvonis orang yg ziarah kubur dgn menyembah kubur, itu ngajak bodoh namanya.
Semoga bermanfaat 🙏🏿🌹

جاري تحميل الاقتراحات...