Aku keluar dari kemah. Tiba-tiba aku melihat beberapa wanita sedang asyik berbincang-bincang. Aku pun tertarik untuk ‘nimbrung’.
Lalu aku kenakan jubah, kemudian duduk di dekat mereka.
Lalu aku kenakan jubah, kemudian duduk di dekat mereka.
Tiba-tiba Rasulullah keluar dari kemahnya. Beliau melihatku dan berkata:
“Hai Abu Abdillah, apa yang membuatmu duduk di dekat para wanita itu?”
“Hai Abu Abdillah, apa yang membuatmu duduk di dekat para wanita itu?”
Aku merasa malu dan segan. Untuk menutupi malu, aku pun berkata:
“Ada ontaku yang lepas, ya Rasul… Aku sedang mencari tali untuk mengikatnya.”
“Ada ontaku yang lepas, ya Rasul… Aku sedang mencari tali untuk mengikatnya.”
Rasulullah hanya tersenyum. Beliau pun berlalu. Aku segera mengikutinya.
Suatu saat beliau menitipkan sorbannya padaku karena beliau akan buang hajat dan berwudhuk. Selesai berwudhuk, sambil mengenakan sorbannya, beliau bertanya padaku:
Suatu saat beliau menitipkan sorbannya padaku karena beliau akan buang hajat dan berwudhuk. Selesai berwudhuk, sambil mengenakan sorbannya, beliau bertanya padaku:
“Wahai Abu Abdillah, bagaimana kabarnya ontamu yang lepas itu?”
Aku hanya terdiam malu.
Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Setiap kali beriringan, Rasul selalu berkata padaku: "Assalamualaikum Abu Abdillah, bagaimana kabarnya ontamu yang lepas itu?”
Aku hanya terdiam malu.
Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Setiap kali beriringan, Rasul selalu berkata padaku: "Assalamualaikum Abu Abdillah, bagaimana kabarnya ontamu yang lepas itu?”
Aku berusaha mempercepat kudaku agar sampai lebih awal di Madinah. Beberapa hari aku sengaja tidak datang ke masjid. Aku juga berusaha untuk menghindari pertemuan dengan Rasul. Tapi karena sudah cukup lama, akhirnya aku pergi juga ke masjid.
Namun aku sengaja datang saat masjid sudah kosong. Lalu aku shalat.
Tiba-tiba Rasulullah keluar dari kamarnya. Beliau shalat dua rakaat. Setelah itu beliau duduk. Aku sengaja melama-lamakan shalat dengan harapan beliau pergi dan meninggalkanku.
Tiba-tiba Rasulullah keluar dari kamarnya. Beliau shalat dua rakaat. Setelah itu beliau duduk. Aku sengaja melama-lamakan shalat dengan harapan beliau pergi dan meninggalkanku.
Tiba-tiba beliau bersabda: “Panjangkan saja semaumu wahai Abu Abdillah, aku tidak akan beranjak sampai engkau selesai.”
Aku berkata dalam hati: “Demi Allah, aku akan minta maaf pada Rasul dan berterus-terang atas apa yang sebenarnya terjadi.”
Aku pun mengakhiri shalatku.
Baru saja aku selesai salam, Rasul berkata: “Assalamualaikum Abu Abdillah, bagaimana kabarnya ontamu yang lepas itu?”
Aku pun mengakhiri shalatku.
Baru saja aku selesai salam, Rasul berkata: “Assalamualaikum Abu Abdillah, bagaimana kabarnya ontamu yang lepas itu?”
Akhirnya aku berkata dengan jujur, “Demi Zat yang telah mengutusmu wahai Rasulullah, sebenarnya tidak ada ontaku yang lepas…”.
Mendengar pengakuan jujurku itu beliau tersenyum dan berkata, “Semoga Allah menyayangimu… semoga Allah menyayangimu… semoga Allah menyayangimu…”
Mendengar pengakuan jujurku itu beliau tersenyum dan berkata, “Semoga Allah menyayangimu… semoga Allah menyayangimu… semoga Allah menyayangimu…”
Sejak saat itu beliau tidak lagi bertanya padaku tentang onta yang lepas.
Kisah ini dinukilkan oleh Imam Ibnu al-Jauzi dalam bukunya yang berjudul Akhbar azh-Zhiraf
Kisah ini dinukilkan oleh Imam Ibnu al-Jauzi dalam bukunya yang berjudul Akhbar azh-Zhiraf
Begitulah keseharian Rasulullah dan para Sahabat, yang terkadang memunculkan kesan bahwa kehidupan beliau dan para sahabatnya penuh dengan hal-hal yang serius. Padahal sesungguhnya tidak sedikit episode-episode yang dapat mengundang tawa.
Ini membuktikan bahwa mereka juga manusia biasa yang bisa untuk ditiru.
Namun demikian, canda dalam kehidupan mereka bukan sesuatu yang sengaja dibuat. Semua alami karena itu, ia tetap bermakna dan berhikmah.
Semoga bermanfaat🙏🏿
Sallu ala Nabi🌹
Namun demikian, canda dalam kehidupan mereka bukan sesuatu yang sengaja dibuat. Semua alami karena itu, ia tetap bermakna dan berhikmah.
Semoga bermanfaat🙏🏿
Sallu ala Nabi🌹
جاري تحميل الاقتراحات...