Doktrin Membuang akal itu bertujuan untuk melanggengkan kebodohan, dan kebodohan selamanya bisa di setir. Doktrin berguna untuk menciptakan ekstrimis dalam agama.
Setiap kali ada pengikut yang mencoba bertanya selalu dijawab, “Kamu percaya saja. Jangan pakai akal, nanti kamu tersesat.”
Padahal mereka sendiri yang menciptakan kesesatan lalu ditutupi dengan kalimat semacam itu, agar tidak ketahuan telah membodohi pengikutnya.!
Padahal mereka sendiri yang menciptakan kesesatan lalu ditutupi dengan kalimat semacam itu, agar tidak ketahuan telah membodohi pengikutnya.!
Dalam ajaran Ahlussunnah wal jamaah, Akal adalah saksi pembenar al-Qur'an dan Hadits. Sekian banyak ayat al-Qur'an yang memerintahkan kita untuk menggunakan akal yang Allah anugerahkan untuk berfikir.
Akal bukan sumber ajaran Islam, namun akal memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Akal berfungsi sebagai pembukti kebenaran Syara', al-Qur'an dan Hadits.
Akal tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan Hadits. Demikian juga sebaliknya, al Qur'an dan Hadits tidak ada yang bertentangan dengan akal.
Allah SWT memberikan kepada kita karunia akal, agar kita gunakan untuk memahami al-Quran dan Hadits.
Allah SWT memberikan kepada kita karunia akal, agar kita gunakan untuk memahami al-Quran dan Hadits.
Di dalam al-Quran, banyak ayat yang berisi pujian kepada orang-orang yang menggunakan akal. dan mencela orang-orang yang tidak menggunakan akal. Tanda-tanda keagungan dan kebesaran Allah di alam semesta ini hanya dipahami oleh mereka yang menggunakan akal.
Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya:
ولهذا قال: “لآيات لأولي الألباب”، أي: العقول التامّة الذكيّة التي تدرك الأشياء بحقائقها على جليّاتها، وليسوا كالصمّ البكم الذين لا يعقلون
ولهذا قال: “لآيات لأولي الألباب”، أي: العقول التامّة الذكيّة التي تدرك الأشياء بحقائقها على جليّاتها، وليسوا كالصمّ البكم الذين لا يعقلون
“Oleh sebab itu, Allah berfirman: ‘Padanya terdapat tanda-tanda bagi orang yang memiliki akal.’ Maksudnya adalah akal yang sempurna dan cerdas yang mengetahui hakikat sesuatu secara jelas, bukan seperti orang yang bisu dan tuli yang tidak berakal.”
Al-Faqih asy-Syaikh Syits ibn Ibrahim al-Maliki (w 598 H) berkata:
“أهل الحق جمعوا بين المعقول والمنقول أي بين العقل والشرع، واستعانوا في درك الحقائق بمجموعهما فسلكوا طريقًا بين طريقي الإفراط والتفريط،
وسنضرب لك مثالاً يقرب من أفهام القاصرين ذَكره العلماء كما
“أهل الحق جمعوا بين المعقول والمنقول أي بين العقل والشرع، واستعانوا في درك الحقائق بمجموعهما فسلكوا طريقًا بين طريقي الإفراط والتفريط،
وسنضرب لك مثالاً يقرب من أفهام القاصرين ذَكره العلماء كما
أن الله تعالى يضرب الأمثال للناس لعلهم يتذكرون، فنقول لذوي العقول: مثال العقل العين الباصرة، ومثال الشرع الشمس المضيئة، فمن استعمل العقل دون الشرع كان بمنزلة من خرج في الليل الأسود البهيم وفتح بصره يريد أن يدرك المرئيات ويفرق بين المبصَرات فيعرف الخيط الأبيض من الخيط الأسود،
والأحمر من الأخضر والأصفر، ويجتهد في تحديق البصر فلا يدرك ما أراد أبدًا مع عدم الشمس المنيرة وإن كان ذا بصر وبصيرة، ومثال من استعمل الشرع دون العقل، مثال من خرج نهارًا جهارًا وهو أعمى أو مغمض العينين، يريد أن يدرك الألوان ويفرق بين الأعراض، فلا يدرك الآخر شيئًا
أبدًا، ومثال من استعمل العقل والشرع جميعًا مثال من خرج بالنهار وهو سالم البصر، مفتوح العينين والشمس ظاهرة مضيئة، فما أجدره وأحقه أن يدرك الألوان على حقائقها، ويفرق بين أسودها وأحمرها وأبيضها وأصفرها”.
“Golongan yang benar (Ahlul Haq) telah menyatukan antara Ma’qul dan Manqul (antara akal dan syari’at) dalam meraih kebenaran.
Mereka mempergunakan keduanya, yang dengan itulah mereka menapaki jalan moderat; jalan antara tidak berlebihan dan tidak teledor (Bayn Thariqay al-Ifrath Wa at-Tafrith).
Berikut ini kita berikan contoh sebagai pendekatan bagi orang-orang yang kurang paham; sebagaimana para ulama selalu membuat contoh-contoh untuk tujuan mendekatkan pemahaman, juga sebagaimana Allah dalam al-Qur’an sering menggambarkan contoh-
contoh bagi manusia sebagai pengingat bagi mereka.
Kita katakan bagi mereka yang memiliki akal; sesungguhnya perumpamaan akal sebagai mata yang melihat, sementara syari’at sebagai matahari bersinar.
Kita katakan bagi mereka yang memiliki akal; sesungguhnya perumpamaan akal sebagai mata yang melihat, sementara syari’at sebagai matahari bersinar.
Siapa yang mempergunakan akal tanpa mempergunakan syari’at maka layakanya ia seorang yang keluar di malam yang gelap gulita, ia membuka matanya untuk dapat melihat dan dapat membedakan antara objek-objek yang ada di hadapannya,
ia berusaha untuk dapat membedakan antara benang putih dari benang hitam, antara merah, hijau, dan kuning, dengan usaha kuatnya ia menajamkan pandangan; namun akhirnya dia tidak akan mendapatkan apapun yang dia inginkan, selamanya.
Dan orang yang mempergunakan syari'at tanpa akal, seperti orang yang keluar di siang hari dengan mata yang buta atau tertutup kedua matanya, dia ingin mengetahui warna dan tanda tandanya, namun dia tidak dapat mengetahui itu selamanya.
Sementara orang yang mempergunakan akal dan syari’at secara bersamaan maka ia seperti orang yang keluar di siang hari dengan pandangan mata yang sehat, ia membuka kedua matanya di saat matahari memancarkan cahaya dengan terang,
sudah tentu orang seperti ini akan secara jelas mendapatkan dan membedakan di antara warna-warna dengan sebenar-benarnya, ia dapat membedakan antara warna hitam, merah, putih, kuning dan lainnya”
📚Haz Al Gholashim 93
📚Haz Al Gholashim 93
Waspadalah terhadap dua kelompok ekstrim dalam masalah ini:
1.Kelompok liberal, pengikut kelompok Muktazilah yang menjadikan akal sebagai sumber ajaran Islam, bahkan lebih tinggi dari Al Qur'an dan Hadits.
1.Kelompok liberal, pengikut kelompok Muktazilah yang menjadikan akal sebagai sumber ajaran Islam, bahkan lebih tinggi dari Al Qur'an dan Hadits.
2. Kelompok Wahhabi dan sejenisnya yang tidak mau menggunakan akalnya untuk berfikir, sehingga ajaran-ajaran mereka banyak yang kontradiksi dengan syara' (Al Qur'an dan Hadits)
Hati-hati dengan dua aliran menyimpang:
1. Ekstrimisme
2. Liberalisme
Ekstrimisme menjadikan agama keras dan kaku, tidak boleh ada khilafiyah furu’iyah fiqhiyah dan melampaui batas dalam menyikapi perbedaan.
1. Ekstrimisme
2. Liberalisme
Ekstrimisme menjadikan agama keras dan kaku, tidak boleh ada khilafiyah furu’iyah fiqhiyah dan melampaui batas dalam menyikapi perbedaan.
Sedangkan Liberalisme meruntuhkan sendi-sendi agama dan prinsip-prinsip yang menjadi tiang agama serta membuat kebenaran menjadi serba relatif.
Semoga bermanfaat 🙏🏿🌹
Semoga bermanfaat 🙏🏿🌹
جاري تحميل الاقتراحات...