Fauzan Al-Rasyid
Fauzan Al-Rasyid

@fauzanalrasyid

17 تغريدة 52 قراءة Apr 10, 2023
🚨[H-29 UTBK 2023]🚨
Memahami pola kalimat
1. Pahami S dan P
2. P dalam bahasa Indonesia tak harus verba
3. Pahami perbedaan O dan Pel.
4. Pahami verba transitif/taktransitif (sebagai P, kita bisa dengan mudah menentukan apakah yang berada setelahnya itu O atau Pel.)
5. Pel. tidak pernah berupa frasa preposisional
6. K dapat ditandai (salah satunya) dengan kehadiran preposisi
7. K bisa diletakkan di awal, tengah, atau akhir kalimat
Subjek (S)
Bagian dari klausa yang menandai apa yang dinyatakan oleh pembicara.
Mencari S: apa/siapa P?
Contoh:
Ibu memasak nasi.
Tanya: siapa yang “memasak nasi”? Ibu → S
Predikat (P)
Bagian dari klausa yang menandai apa yang dinyatakan pembicara tentang subjek.
Predikat adjektival, nominal, numeral, dan frasa preposisional TIDAK butuh objek.
Predikat verbal dibagi dua:
1. transitif
2. taktransitif
Verba transitif:
1. Membutuhkan objek
2. Bisa dipasifkan
3. Ciri:
>>> me-
>>> me-kan
>>> me-i
>>> memper-
>>> memper-kan
>>> memper-i
Contoh:
Ibu membacakan dongeng.
Cek!
1. Hapus unsur setelah predikat, apakah jelas?
Ibu membacakan.
Membacakan apa? Artinya, harus ada sesuatu setelah predikat. Sesuatu itu adalah objek.
2. Bisa dipasifkan? Bisa.
Dongeng dibacakan ibu.
3. Predikat verbal berawalan me-/me-kan/variasi lainnya? Iya (membacakan).
Artinya, dongeng adalah objek.
Verba taktransitif:
1. Tidak butuh objek
2. Tidak bisa dipasifkan
3. Bisa jadi diikuti Pel. atau K
4. Ciri
>>> ber-
>>> di-
>>> ter-
>>> ke-an
Contoh 1:
Adik bermain bola.
1. Hapus unsur setelah predikat, apakah jelas?
Adik bermain — jelas.
Artinya, sesuatu yang berada setelah predikat BUKAN objek.
2. Bisa dipasifkan? Tidak.
Artinya, sesuatu yang berada setelah predikat BUKAN objek. Apa itu? Pelengkap.
Contoh 2:
Dia tersandung di lapangan.
1. Hapus unsur setelah predikat, apakah jelas?
Dia tersandung.
Apakah sudah jelas? Iya. Artinya, sesuatu setelah predikat BUKAN objek.
2. Bisa dipasifkan? Tidak.
Apa yang berada setelah P? K — kenapa bukan Pel.? Ada PREPOSISI (di).
Objek (O)
1. Berwujud nomina, frasa nominal, atau klausa.
2. Berada langsung di sebelah kanan predikat verba atau frasa verbal transitif.
3. Dapat menjadi subjek dalam pemasifan kalimat.
4. Dapat diganti dengan -nya.
Klausa sebagai objek ditandai dengan BAHWA setelah predikat verba transitif.
Contoh:
Dia percaya bahwa temannya tidak bersalah.
Dia (S) percaya (P) bahwa (konj.) temannya tidak bersalah (O)
Pelengkap (Pel.)
1. Berwujud nomina, frasa nominal, frasa verbal, frasa adjektival, frasa preposisional, atau klausa.
2. Tidak dapat menjadi subjek dalam pemasifan kalimat
3. Setelah predikat ADALAH, MERUPAKAN, atau MENJADI, pasti diikuti pelengkap
Keterangan (K)
1. Ditandai dengan preposisi (HAFALKAN — di, ke, dari, pada, kepada, dalam, dengan, untuk, bagi, oleh, tentang) atau penanda waktu.
2. Bisa diletakkan di awal, tengah, atau akhir kalimat DAN tidak mengubah makna kalimat.
Contoh:
Kemarin (K) ibu (S) membuat (P) kue (O).
Ibu (S) kemarin (K) membuat (P) kue (O).
Ibu (S) membuat (P) kue (O) kemarin (K).
Maknanya sama. Artinya, kemarin berfungsi sebagai keterangan (waktu).
Contoh:
Saya makan mangga yang diberikan oleh tetangga saya yang baru saja kembali dari desanya di Malang kemarin sore.
Apakah “di Malang” merupakan K? Cek!
Di Malang, saya makan mangga yang diberikan oleh tetangga saya yang baru saja kembali dari desanya kemarin sore.
Samakah maknanya dengan kalimat acuan? Tidak.
Artinya, “mangga yang diberikan oleh tetangga saya yang baru saja kembali dari desanya di Malang” merupakan satu kesatuan, satu frasa (frasa nominal) dan berfungsi sebagai objek.

جاري تحميل الاقتراحات...